Tangisan bayi bisa membuat semua orang panik.
Bunga Surga
Kuantar kepergianmu dengan sebuah doa
diantara mawar merah ,
basah di pusaramu
Berharap Tuhanmu mau menerimamu
dan Surga tempatmu berlindung
Matahariku ,
Lupakan duniamu , jemputlah Surgamu
Disini kuberharap
Suatu saat nanti , kita berkumpul kembali
di tempatmu yang baru
Semarang, 25 Mei 2012
diantara mawar merah ,
basah di pusaramu
Berharap Tuhanmu mau menerimamu
dan Surga tempatmu berlindung
Matahariku ,
Lupakan duniamu , jemputlah Surgamu
Disini kuberharap
Suatu saat nanti , kita berkumpul kembali
di tempatmu yang baru
Semarang, 25 Mei 2012
tangisku
Tangisku, kala aku ngompol dan emak lupa mengganti popokku.
Tangisku, saat aku kehausan dan emak lama menyiapkan susuku.
Tangisku, ketika selang infus dan oksigen menyiksaku saat aku dirawat di rumah sakit.
Tangisku . . . . . . . . . . . . .
Mengawali pagi ini dengan tangismu, sementara orang-orang hiruk pikuk di pasar sebelah.
Aku tak tahu apakah tangismu mengandung kesedihan atau kebahagiaan.
Sekedar doaku mengantar harimu, semoga kelak engkau menjadi insan yang berguna nduk
Menjalani siang dengan peluh di badan.
Sayup kudengar rengekanmu dari kebun belakang.
Berharap dapat kubelikan sebotol susu dan selembar popok dari hasil berkebun kelak.
Menutup malam dengan tawa kecilmu, ketika emak menemanimu bermain.
Sayup kudengar suara berita dari tv tetangga sebelah.
Kuhisap rokok dan secangkir kopi menemani lamunan malamku.
Kutengok kamar ketika lama tak kudengar tawa kecilmu, mimpi indahlah nduk, . . . . . . . . . . . . . . . . karena esok masih banyak harapan yang bisa engkau raih.
Tangisku, saat aku kehausan dan emak lama menyiapkan susuku.
Tangisku, ketika selang infus dan oksigen menyiksaku saat aku dirawat di rumah sakit.
Tangisku . . . . . . . . . . . . .
Mengawali pagi ini dengan tangismu, sementara orang-orang hiruk pikuk di pasar sebelah.
Aku tak tahu apakah tangismu mengandung kesedihan atau kebahagiaan.
Sekedar doaku mengantar harimu, semoga kelak engkau menjadi insan yang berguna nduk
Menjalani siang dengan peluh di badan.
Sayup kudengar rengekanmu dari kebun belakang.
Berharap dapat kubelikan sebotol susu dan selembar popok dari hasil berkebun kelak.
Menutup malam dengan tawa kecilmu, ketika emak menemanimu bermain.
Sayup kudengar suara berita dari tv tetangga sebelah.
Kuhisap rokok dan secangkir kopi menemani lamunan malamku.
Kutengok kamar ketika lama tak kudengar tawa kecilmu, mimpi indahlah nduk, . . . . . . . . . . . . . . . . karena esok masih banyak harapan yang bisa engkau raih.
Semarang , 13 Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)




